Sebaiknya dibaca

Cegah Hip Displasia pada anak

Sangat menyedihkan jika anak yang kita cintai sakit atau mengalami kesakitan. Orang tua seharusnya mengetauhi mengenai Hip Displasia Pada A...

Rabu, 14 Oktober 2015

PERAN PERAWAT DALAM PALLIATIVE CARE


Pada tugas perkuliahan tahun lalu, saya dan teman sekelas mengadakan seminar Nasional. Kami masih menjalani perkuliahan secara general pada semester 1 dan belum terpisah dalam konsentrasi spesialis masing-masing. Setelah memasuki semester 2, kelas terpisah menjadi 3 konsentrasi. Konsentrasi Keperawatan Dewasa (dulu dikenal dengan Medikal Bedah), Konsentrasi Manajemen Keperawatan dan Konsentrasi Keperawatan Komunitas. Pada tahun 2015, diharapkan para pendidik Keperawatan sudah menyelesaikan pendidikan Magister Keperawatan. Universitas Diponegoro adalah salah satu penyelenggara pendidikan Magister Keperawatan. Namun, teman-teman di klinik juga diharapkan untuk segera menempuh pendidikan Magister untuk kemajuan Profesi Keperawatan.

Setiap konsentrasi diharuskan mengirim delegasi pembicara dengan tema Paliative Care. Peran Perawat dalam Paliative Care adalah judul yang dipilih oleh perwakilan dari konsentrasi Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Undip angkatan 2014.


Apa itu Palliative Care? 

Pernahkah pembaca mendengar seorang pasien yang dinyatakan usianya tinggal sekian hari, tahun atau menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan atau biasa disebut fase Terminal. Penggunaan kata Terminal memang menyerupai makna pemberhentian bus. Bus yang beroperasi seharian akan kembali ke tempat pemberhentian yaitu Terminal. Bagitu pula dengan kehidupan manusia, ada saat dimana suatu kehidupan harus berhenti bukan dengan tiba-tiba dan melalui proses yang panjang. Dalam dunia kesehatan, dikenal perawatan palliative. Tentu saja, perawatan ini ditujukan pada penderita dengan prognosa (perkiraan secara medis) pada fase Terminal.

Perawatan palliative, bertujuan memperbaiki kualitas hidup antara pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain seperti fisik, psikososial dan spiritual (WHO, 2002).

Pengobatan dan perawatan palliative adalah spesialisasi yang diakui dan fokusnya meredakan gejala pada orang yang penyakitnya tidak dapat disembuhkan (fase Terminal). Intervensi (tindakan) yang mungkin diberikan untuk meringankan penderitaan pasien meliputi tindakan bedah, kemoterapi, dan monitoring gejala (WHO, 1990).

Palliative Care (Perawatan palliative) bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka dalam menghadapi masalah/penyakit yang mengancam jiwa, melalui pencegahan, penilaian sempurna dan pengobatan rasa sakit masalah, fisik, psikososial dan spiritual (Kemenkes RI Nomor 812, 2007).

Kualitas hidup pasien yang dimaksud adalah kondisi pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien sesuai konteks budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya. Dimensi dari kualitas hidup pasien

  1. gejala
  2. kemampuan fungsional (aktivitas),
  3. kesejahteraan keluarga,
  4. spiritual,
  5. fungsi sosial,
  6. kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan),
  7. orientasi masa depan,
  8. kehidupan seksual,
  9. termasuk gambaran terhadap diri sendiri,
  10. fungsi dalam bekerja.
Pelayanan perawatan palliative dapat dilakukan di rumah pasien, oleh tenaga palliative dan atau keluarga atas bimbingan/pengawasan tenaga palliative.

Mengapa harus dilakukan Palliative Care

Fokus perawatan palliative adalah peredaman rasa sakit dan gejala serta stress akibat penyakit kritis seperti kanker stadium lanjut.
Perawatan palliative dapat dilakukan segera setelah diputuskan terapi yang akan diterima klien bersifat palliative sampai pasien meninggal. Perawatan ini mencakup perawatan holistik bagi pasien dan keluarganya, serta pemberian informasi terkini sehingga mereka dapat mengambil keputusan ketika dihadapkan pada peristiwa anggota keluarganya akan meninggal. Melalui pengawasan, keluarga maupun teman terdekat dapat membantu memberikan perawatan paliative pada penderita.

Perawatan spesialis berlanjut setelah kematian pasien sampai anggota keluarga yang berduka telah memulai proses pemulihan. Perawatan palliative merupakan kombinasi unik dukungan di rumah sakit, hospice, day-centre (tempat perawatan lansia dan orang gangguan jiwa), dan di rumah masing-masing untuk memenuhi kebutuhan individual pasien dan keluarganya.

Apa Saja Ruang Lingkup Kegiatan Paliative Care 
Jenis kegiatan perawatan palliative menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 812/Menkes/sk/VII/2007 tentang kebijakan lingkup kegiatan perawatan palliative, meliputi :
  1. pengelolaan keluhan nyeri,
  2. pengelolaan keluhan fisik lain,
  3. asuhan keperawatan,
  4. dukungan psikologis,
  5. dukungan sosial, kultural dan spiritual,
  6. dukungan persiapan dan selama masa duka cita (bereavement).
Perawatan palliative dilakukan melalui rawat inap, rawat jalan, dan kunjungan /rawat. Perawatan palliative dapat dilaksanakan melalui pendekatan sebagai berikut, :
  1. Menyediakan bantuan untuk rasa sakit dan gejala lain yang menganggu klien.
  2. Menegaskan hidup dan menganggap mati sebagai proses yang normal
  3. Tidak bermaksud untuk mempercepat atau menunda kematian
  4. Mengintegrasikan aspek-aspek psikologis dan spiritual perawatan pasien
  5. Meredakan nyeri dan gejala fisik lain yang mengganggu
Aspek medikolegal dalam Palliative Care
Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien palliative:

  1. Tim Perawatan palliative bekerja berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Pimpinan Rumah Sakit, termasuk pada saat melakukan perawatan di rumah pasien.
  2. Tindakan yang bersifat medis harus dikerjakan oleh tenaga medis, tetapi dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan pasien tindakan-tindakan tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih.Komunikasi antara pelaksana dengan pembuat kebijakan harus dipelihara (Kepmenkes RI Nomor: 812, 2007)
Prinsip-prinsip Paliative Care
Pelaksanaan palliative care tetap harus memperhatikan kode etik profesi, hak dan kewajiban perawat dan pasien terutama menghormati atau menghargai martabat dan harga diri dari pasien dan keluarga serta pemberian dukungan untuk caregiver, karena masa-masa terminal merupakan masa yang sensitif untuk pasien dan keluarganya.

Palliative care merupakan accses yang competent dan compassionnet, pengembangan secara professional dan soisial support sangat perlu dengan pengembangan melalui penelitian dan pendidikan (Ferrell, & Coyle, 2007: 52)

Layanan Palliative Care Cancer
Pain Management : sekitar seperempat dari pasien yang menderita kanker stadium lanjut mengalami rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit ini sering sulit untuk dikendalikan. Kadangkala pengobatan yang bertujuan untuk meredam rasa sakit bisa menyebabkan banyak efek samping. Tim spesialis hadir untuk membantu dan menangani bagaimana caranya untuk mengurangi rasa sakit akibat kanker, serta membantu meminimalisir efek samping akibat obat-obatan.

Discharge & Home Care Planning
: pasien dengan kanker stadium lanjut akan menjadi sangat lemah dan membutuhkan perhatian lebih dari yang biasanya di rumah. Tim spesialis dapat mengevaluasi kondisi pasien serta menentukan perawatan serta peralatan apa saja yang akan dibutuhkan pasien di rumah. Mereka juga akan menghubungkan layanan-layanan yang diperlukan untuk memberikan perawatan serta peralatan di rumah.

Advance Care Planning (ACP) adalah sebuah konsep baru yang mulai populer di Amerika Serikat dan Australia. Tim spesialis dapat membantu pasien untuk merencanakan dan mendokumentasikan keinginan pasien akan pengobatan medisnya, dan menunjuk seseorang yang dapat menggantikan pasien dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang.

End-of-life Care : Pasien dengan kanker stadium lanjut bisa menderita beragam gejala pada masa masa akhir hidupnya. Gejala-gejala ini bisa membuat pasien beserta anggota keluarga merasa tertekan. Tim spesialis dapat membantu dalam mengatasi gejala-gejala ini sehingga pasien merasa lebih nyaman di tempat ia dirawat.

Paliative Care Plan : Paliative Care Plan dapat dilaksanakan dengan partnership antara pasien, keluarga, orang tua, teman sebaya dan petugas kesehatan yang professional, suport fisik, emosinal, pycososial, dan spiritual khususnya. Melibatkan pasien dalam kebutuhan memahami gambaran dan kondisi penyakit terminalnya secara bertahap, tepat dan sesuai. Menyediakan diagnostik atau kebutuhan intervensi terapeutik guna memperhatikan/memikirkan konteks tujuan dan pengaharapan dari pasien dan keluarga (Doyle, Hanks and Macdonald, 2003: 42)

Peran Spiritual Dalam Paliative Care 

Beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan dramatis dalam agama dan keyakinan spiritual sebagai sumber kekuatan dan dukungan dalam penyakit fisik yang serius. Profesional kesehatan yang memberikan perawatan medis menyadari pentingnya memenuhi 'kebutuhan spiritual dan keagamaan' pasien (Woodruff , 2004)

Sebuah pendekatan kasih sayang akan meningkatkan kemungkinan pemulihan atau perbaikan. Dalam contoh terburuk, ia menawarkan kenyamanan dan persiapan untuk individu melalui proses traumatis penyakit terakhir sebelum kematian (Doyle, Hanks and Macdonald, 2003 :101). Studi pasien dengan penyakit kronis atau terminal telah menunjukkan kejadian insiden tinggi depresi dan gangguan mental lainnya. Dimensi lain menunjukkan bahwa tingkat depresi sebanding dengan tingkat keparahan penyakit dan hilangnya fungsi tambahan. Sumber depresi adalah sekitar isu yang berkaitan dengan spiritualitas dan agama. Pasien di bawah perawatan palliative dan dalam keadaan seperti itu sering mempunyai keprihatinan rohani yang berkaitan dengan kondisi mereka dan mendekati kematian (Ferrell & Coyle, 2007: 848).

Spiritual dan keprihatinan keagamaan dengan pasien biasanya bersinggungan dengan isu sehari-hari penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dengan orang tua dan mereka yang menghadapi kematian yang akan datang. Kekhawatiran semacam itu telah diamati, bahkan pada pasien yang telah dirawat di rumah sakit dengan penyakit serius non-terminal (Ferrell & Coyle, 2007: 52). Studi lain telah menunjukkan bahwa persentase yang tinggi dari pasien di atas usia 60 tahun menemukan hiburan dalam ketekunan bergama yang memberi mereka kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi kehidupan, sampai batas tertentu. Kekhawatiran di saat sakit parah mengasumsikan berbagai bentuk seperti hubungan seseorang dengan Allah, takut akan neraka dan perasaan ditinggalkan oleh komunitas keagamaan mereka. Sering menghormati dan memvalidasi individu pada dorongan agama dan keyakinan adalah setengah perjuangan ke arah menyiapkan mereka pada sebuah kematian yang baik (Ferrell & Coyle, 2007: 1171 8).

Blog dan Perawatan Palliative
Menulis di blog, menjadi salah satu alternatif untuk  seseorang mendapatkan dukungan secara spiritual dan sosial sekaligus. Perasaan berbagi dan bahagianya mendapatkan dukungan baik dari mereka sesama pasien Palliative maupun empaty dari blogger lain mampu menurunkan depresi pada pasien. Sebuah terapi yang perlu untuk dikembangkan lebih jauh oleh perawat yang memberikan perawatan palliative care di rumah.

Ners,
Tetap semangat mendampingi klien (pasien) dan keluarga dengan Palliative Care.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan kenangan di kolom komentar blog. Insyaallah segera dibalas :)

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, it's not that hard to do dear...

 

Rumah Syauqiya Template by Ipietoon Cute Blog Design