Sebaiknya dibaca

Cegah Hip Displasia pada anak

Sangat menyedihkan jika anak yang kita cintai sakit atau mengalami kesakitan. Orang tua seharusnya mengetauhi mengenai Hip Displasia Pada A...

Minggu, 22 November 2015

Kenali depresi pada ibu pasca bersalin menggunakan EPDS

Persalinan sejatinya adalah proses alamiah dari tubuh sebagai bagian dari fungsi reproduksi manusia. Pada masanya persalinan mengalami berbagai perkembangan dan kemunduran. Kemunduran dalam persalinan bisa dicontohkan pada manipulasi posisi bersalin. Secara alamiah wanita mampu bersalin dengan bantuan minimal namun dibutuhkan persiapan selama masa kehamilan. Posisi melahirkan alami seorang wanita bukanlah telentang dengan menidurkan tulang belakang, dimana hal ini justru akan mempersempit diameter jalan persalinan. Tindakan untuk membantu menrgeluarkan bayi tak jarang diberikan dan ibu mengejan dengan keras untuk melahirkan bayi yang perjalanannya justru melawan gaya gravitasi.

Posis melahirkan yang lebih mendukung dan alami adalah dengan berjongkok, merangkak atau berdiri. Sebagai keluarga Mamalia, manusia bisa dianalogikan dengan mamalia lainnya yang melahirkan bayi mereka tidak dengan telentang meniduri tulang belakang!
Posisi ini cenderung memperlebar diameter jalan persalinan, sesuai posisi anatomis tulang sakrum (ekor), dan tanpa melawan gaya gravitasi saat bayi dilahirkan.
 
Proses bersalin sama pentingnya dengan proses kehamilan, persalinan akan menghantarkan ibu pada kondisi pasca bersalin, dalam bahasa medis biasa disebut post partum atau post natal. Proses bersalin yang sulit, atau disertai permasalahan seringkali akan membawa trauma untuk ibu. Pada masa postnatal inilah, seorang ibu rawan untuk mengalami depresi. Sayangnya sebagian besar ibu post natal enggan dan cenderung tabu untuk mengutarakan keluhannya.Sehingga jika terjadi kejadian Post Natal Depression (PND) sulit untuk diketahui.


credit : google book

Seberapa bahayakah PND itu?

PND dapat memberikan pengaruh buruk bagi ibu di setiap lini kehidupannya. Gangguan sosial, psikologi dan gangguan pada saat ibu bekerja baik working mom maupun stay at home mom. PND yang dialami ibu memberikan posisi beresiko pada bayi, hal ini dapat menyebabkan masalah perkembangan, perilaku dan emosional pada anak di masa depan. 
PND menjadi faktor resiko status kesehatan mental pada anak dan ditengarai memiliki kaintan dengan kasus gangguan mental lanjutan pada anak pra sekolah, khususnya mengenai persaan aman, dan gangguan perkembangan kognitif, sosial dan emosional
 
Perilaku membahayakan lainnya bisa saja terjadi seperti kejadia di US yang dijadikan novel berjudul Luka cinta Andrea. Seorang ibu yang mengalami PND membahayakn diri sendiri dengan percobaan bunuh diri, sampai membunuh kelima anaknya.

Secara medis, kasus PND bisa diatasi dan dideteksi. Salah satunya menggunakan Edinburg Postnatal Depression Scale (EPDS). Skala ini dipopulerkan pada tahun 1987 oleh COX.
Isi dari EPDS berupa skala laporan berisi 10 jenis pertanyaan tentang gejala depresi yang terjadi pada rentang waktu selama 1 minggu yang lampau.
Nilainya berupa skala dalah 0-30, setiap pertanyaan mempunyai skala empat poin (0-3)
Penilaian tersebut dapat berupa:
  1. Nilai 1-8 tidak mengidentifikasikan kejadian depresi
  2. Nilai 9-11 nilai depresi yang rendah
  3. Nilai 12-30 nilai depresi rendah meningkat ke tinggi. 
  4. Nilai 0 mengidentifikasi kemungkinan kejadiandepresi karena beberapa wanita cenderung tidak mau mengekspresikan gejala depresinya


Skala pengukuran EPDS adalah sebagai berikut :

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&sqi=2&ved=0ahUKEwibjJTQ6qLJAhWi5qYKHWcWBpUQFgghMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.fresno.ucsf.edu%2Fpediatrics%2Fdownloads%2Fedinburghscale.pdf&usg=AFQjCNGzsQ27Thwuqu9iwxMP3d56iy_lpQ&sig2=e41iGD2xENow8i__-KPYiA&bvm=bv.108194040,d.dGY
Jika skala tersebut kurang jelas bisa search di klik pada gambar untuk download file PDF.
Skala ini bisa juga digunakan pada kejadian nonmaternal atau untuk kondisi normal tanpa kehadiran kehamilan. Anda bisa menggunakannya untuk mendeteksi kejadian derpesi pada diri anda sendiri baik dalam keadaan hamil, pasca bersalin atau tanpa kehamilan. Sangat bermanfaat juga untuk menilai status depresi orang disekitar anda, apakah nantinya perlu tindakan khusus atau tidak.

Selamat berhari minggu :)

Refferensi :
Diah Indriastuti, (2015). Deteksi Postnatal Depression menggunakan EPDS (Edinburg Postnatal Depression Scale) Pada Kunjungan Rumah Ibu Post Partum. Proceeding di Seminar Nasional Keperawatan Komunitas UNDIP.

8 komentar:

  1. nice posting mb,

    hm.. proses melahirkan memang seharusnya proses yang alamiah, tanpa bantuan dokter ataupun bidan kalau tidak ada penyakit kritis ataupun bawaan, maka ia normal.

    Perkembangan informasi sekarang seharusnya membuat wanita-wanita calon ibu dari anak-anaknya lebih mudah mendapatkan informasi, tetapi peluang ini sepertinya masih jarang dimanfaatkan oleh masyarakat yang umumnya masih menganut paham 'katanya' akibat dari itu banyak informasi yang seharusnya baik menjadi buruk dalam penyampaian. Misalnya, melahirkan gampang. Tetapi entah bagaimana di masyarakat itu timbul persepsi kalau melahirkan itu sulit.

    Pikiran itu terkadang yang membuat calon ibu stres, ditambah lagi keluarga atau kerabat yang tidak mendukung kelahiran normal, alih-alih menyarankan operasi. Disatu sisi calon ibu sudah stres pengetahuan kurang, tambah lagi pelayanan rumah sakit yang menganggap semua calon ibu itu 'tahu' bagaimana proses melahirkan. Akhirnya timbul perasaan, pasrah.

    Pasrah itu kemudian mungkin diikuti dengan kekecewaan pelayanan persalinan, suami yang tidak pengertian, anak yang mulai menuntut ASI, pekerjaan rumah yang tidak selesai, orangtua yang butuh perhatian dll. Lengkaplah penderitaan sebagai ibu muda, ditambah lagi melihat bentuk tubuh yang tidak ideal..

    mungkin kalau tidak ada iman dan institusi sebagai seorang ibu, sebagian besar ibu sudah banyak yang kehilangan akal.. Disitulah hebatnya ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. Mb Nisa sdh mampir
      Saya setuju mb, iman adalah penyelamat terbaik

      Hapus
  2. Memang ada baiknya, seorang ibu yang habis melahirkan tidaklah "bekerja" sendirian untuk mengurus dirinya dan bayinya. masa kehamilan dengan masa ngidamnya mungkin berat, tetapi setelah melahirkan bisa jadi hal yang membuat dirinya terbebani berubah bentuk.

    khawatir... mungkin dari situ semuanya bermula. khawatir jika dirinya tidak bisa memberikan ASI, khawatir jika dirinya tidak bisa membesarkan anaknya seperti para ibu lain yang ada di sekitarnya, khawatir jika anaknya dianggap kurang baik pertumbuhannya dibanding dengan bayi di sekelilingnya.

    rasa khawatir tersebut tentu saja sudah berat ditanggungnya sendiri. apalagi jika ditambah dengan omongan dari orang-orang di sekitarnya yang memberikan dampak negatif. pastinya akan lebih berat lagi.

    di masa hamil dan ngidam di mana sang ibu kurang nafsu makan, omongan "kalau sayang sama dede bayi di dalam perut, kamu harus makan!" akan berbeda dampaknya secara kejiwaan dengan kalimat, "dicobain dulu. kalau enak dihabiskan. kalau nggak enak, ditinggal aja, nanti dibuatin yang rasanya enak."

    di masa menyusui, kalimat "anaknya si A itu badannya gemuk. coba aja ditambahin susu!" tentunya akan membuat sang ibu merasa sedih. padahal, bayi sehat tidak selalu identik dengan badan yang gemuk.

    karenanya, keberadaan seorang suami amat sangat diperlukan oleh seorang istri di masa hamil dan pasca melahirkan. dan tak hanya sebatas masa itu saja... di seluruh waktu, keduanya harus bersama untuk menerima amanah yang diberikan kepada mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju sekali dengan statemen pak Rifki tentang keberadaan suami selama periode hamil hingga nifas
      sebagai dukungan utama untuk ibu dan anak

      Hapus
  3. Ini saya mau sharing jujur ya, dulu pas Aiman baru lahir malah saya yang merasakan kekhawatiran apakah saya bisa menjadi ayah yang baik buatnya, membesarkan dia seperti bayi-bayi yang lain. Rasanya tuh sampai sedih bahkan pernah menangis hiks, nggak tahu deh ini namanya apa Mbak Indri. Mungkin saya ayah yang terlalu perasa he3

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi ayah jg depresi nih? hehehe
      wajar mas ihwan, saking sayangnya sama aiman

      Hapus
  4. ihh akuu waktu pas lahiran anak pertama sedihh banget lho bawaannya...T_T

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan kenangan di kolom komentar blog. Insyaallah segera dibalas :)

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, it's not that hard to do dear...

 

Rumah Syauqiya Template by Ipietoon Cute Blog Design