Berkarya

[REPOST]



    وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.  (QS: At-Taubah Ayat: 105)
Bahagia itu banyak caranya, salah satunya dengan tetap berkarya.
Belakangan kembali marak mengenai perdebatan mengenai ibu bekerja vs ibu di rumah.
Mommies war menurut saya dengan prinsip apapun yang dipegang, adalah suatu hal yang sia-sia. Salah satu pihak hanya akan menunjukkan kebaikkan diri sendiri dan merendahkan orang lain.
Seorang ibu tidak akan kehilangan kewajiban dan haknya hanya karena bekerja atau tidak.
We knew our own sea to sail

Tulisan ini adalah tulisan 11 bulan yang lalu ketika saya berjumpa dengan kawan lama setelah sekian lama ada halangan untuk bersilaturahim. Setiap pertemuan kami, tidak ada waktu yang terbuang percuma. Waktu itu kami membahas tentang surah At-taubah ayat 105, tentang berkarya.

Sebenarnya, ibadah-ibadah rutin yang kita kerjakan belumlah cukup sebagai bekal akhirat kita di mata Allah. Maka Allah memerintahkan kita untuk berkarya, bekerja dan Allah sendirilah yang akan menilai usaha kita. Sebagai wanita, mau di rumah, di kantor, di rumah sakit dan di manapun menjalani kehidupan wajib untuk berkarya, bekerja dengan niatan masing-masing dengan tambahan niat demi Allah ta'ala.

Ibarat seseorang yang bekerja demi memenuhi kebutuhan keuangan, jika diselipkan niat atas ikhlas demi Allah akan berbeda dengan seseorang yang hanya bekerja demi uang semata. Pengusaha, enterpreuneur memiliki ladang amalan dalam kesempatannya menolong orang lain lebih banyak. Perawat, profesi yang saya geluti memiliki ladang amalan yang subhanallah tiada putus kesempatannya. Begitupun pekerjaan lain. Apabila niatan itu tanpa disertai kata ridho dan ikhlas, rusaklah tabungan akhirat. Bekerja dengan tujuan mendapatkan pundi uang yang banyak bukanlah suatu dosa dan aib. Keberadaan uang bisa menjadi perantara amalan akhirat kita.

Dengan materi yang lebih, kita bisa berbuat lebih banyak. 
Barangkali tidak perlu lagi ada anak-anak yang mengaku dari pesantren menyusuri jalanan dan rumah-rumah menawarkan amplop untuk pembangunan masjid.

Barangkali tidak ada lagi lansia yang harus menghabiskan masa tua mereka di pinggir jalan mengais sampah.

Barangkali dan sudah pasti dengan finansial yang kuat seperti sayidinna Khadijah dan Abu bakar as sidiq tidak ada lagi orang yang menjadi penjahat karena lapangan kerja yang luas. 2,5% yang rutin dan pengelolaan yang baik.

Sudahkan terisi tabungan akhirat kita?
Sudahkan kita bisa pastikan jika anak cucu kita kelak akan mendo'akan kita di masa panjang di dalam kubur?

4 komentar:

  1. Iya tp g bisa dilamar dinar. *komen apa ini* hahahaha

    BalasHapus
  2. Hadeuh
    Saya mah dilamar bukan ngelamar
    #apa pula ini

    BalasHapus
  3. Kirin org india yg lakinya dilamar :p

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan kenangan di kolom komentar blog. Insyaallah segera dibalas :)

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, it's not that hard to do dear...

Diberdayakan oleh Blogger.