Jalan-jalan yang tertunda bersama orang tua


Assalaumuallaykum teman baca,
Update pertama di bulan agustus nih, harusnya ditulis di bulan July tapi tertunda sekian lama. Baiklah semangat menulis lagi, kita fokuskan untuk kembali rutin mengikuti jadwal arisan nulis di komunitas blogger Gandjel Rel Semarang. Nge-Blog ben rak Ngganjeeeel....!

Mbak Winda Oetomo dan mbak Dwi Sept mengingatkan tentang orang yang paling ingin diajak traveling. Saat ini tentu saja pengen banget jalan-jalan or traveling bareng bapak dan ibu. Masa kecil saya dihiasi kenangan sering diajak piknik sama bapak dan ibu. Walaupun berkunjung ke rumah saudara tetapi ada kesempatan untuk mampir ke tempat wisata juga. Seringkali kami berkunjung ke Jogja atau sekitar Semarang saja. Tempat wisata Semarang tak kalah menarik untuk dikunjungi atau sekedar untuk refreshing ke taman pemancingan. Khususnya di Bandungan. Bukan kota Bandung ya, tempat bernama Bandungan dekat dengan Ambarawa.

Seneng ga sih? seneng banget laaah...
Kenangan masa kecil itu juga yang sampai sekarang mengikat saya dengan orang tua saya. Masa kecil yang menyenangkan sehingga Allah memerintahkan kita untuk selalu mendoakan orang tua supaya Allah menyayangi mereka seperti di waktu aku kecil. Betapa masa kecil sangat berarti ya untuk hubungan orang tua anak. Meskipun oran tua saya bukan orang tua yang sempurna dalam menerapkan parenting seperti isu-isu yang santer belakangan, bahkan membuat saya sebagai orang tua zaman ini menjadi agak galau untuk mengikuti banyaknya teori yang ada. Tetapi orang tua saya sudah membuat anak-anaknya menjadi luar biasa.

Saya merasa tiada berharga apabila tidak ada dukungan yang tiada henti dari orang tua, teman juga begitu kan?

Belajar dari hubungan anak dan orang tua yang saya miliki bersama orang tua saya. Mengadopsi dari definisi Platonic Love. Cinta orang tua kepada anak adalah cinta yang murni, ikhlas dan tulus. Orang tua akan selalu menerima anak sebesar apapun kesalahan anak dan sesakit apapun anak menyakitinya. 
*True Story*

Sebaliknya, anak seringkali menuntut haknya tanpa melihat banyaknya kewajiban orang tua yang sudah ditunaikan bahkan secara berlebihan. Anak ingin semua kemauan dan keinginan dituruti tetapi lupa untuk membuat daftar kebutuhan yang sudah dipenuhi oleh orang tua walaupun tanpa diminta anak.

Ada saatnya iya dan ada saatnya tidak. 
Dahulu saat masih jadi bocah sampai remaja, tidak pernah terbersit pikiran seperti diatas. Setiap kemarahan orang tua saya anggap sebagai bentuk ketidaksempurnaan mereka sebagai orang tua. Setiap keinginan dan kemauan yang tak terpenuhi menjadi sebuah catatan hitam orang tua. Semenjak menjadi orang tua, saya baru mengerti.

Menjadi orang tua itu sulit, sesulit menyenangkan hati anak dan menepis keinginan pribadi. Orang tua rela makan tahu sementara anaknya lahap makan ayam. Orang tua rela memakai baju kemarin dulu sementara anak merajuk meminta baju yang baru lagi dan lagi. Tapi ternyata semua bisa diberikan, waktu membuat para orang tua rela, ikhlas dan bahagia melihat anaknya serba kecukupan dan gembira.

Sesulit apapun bahkan dalam keadaan susah, orang tua tidak akan pernah meninggalkan anak. Sering miris jika melihat kondisi hubungan orang tua anak saat ini, banyak anak merasa 'mampu dan sukses' karena usaha dan upayanya sendiri. Sehingga melupakan siapa yang membersihkan kotoran-kotorannya saat dia belum bisa pergi ke toilet sendiri. Bahkan makan minumpun belum mampu sendiri.

Saat jauh begini, saya seringkali teringat orang tua yang jauh tempat tinggalnya. Seringnya pengen mengajak orang tua jalan-jalan sewaktu pulang atau saat di Semarang. Sayangnya sering terkendal ini dan itu, termasuk budget. Sampai sekarang masih ingat kalau mau ngajakin jalan-jalan ke Bali. Pernah suatu kali ada budget untuk pergi ke Bali sama-sama tetapi orang tua saya malah tidak mau. Sekali lagi ya, orang tua berkorban untuk kebahagiaan anak. Budget traveling ke Bali dialihkan untuk budget pernikahan saya. Kata orang tua saya, ingin yang terbaik untuk acara 1 kali seumur hidup saya sebagai anak perempuan terakhir dalam keluarga.

Itu moment yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup yang membuat saya ingin berjalan di atas pasir pantai Bali bersama orang tua. Segala hal tentang Bali yang baru beliau dengar dan belum pernah dilihat langsung. Jadi, rasanya masih ingin sekali untuk memenuhi keinginan beliau untuk traveling sama-sama ke Bali, tentu sama-sama si Bocil juga. Jikapun bukan dari saya semoga dari anak yang lain. Secara dulu waktu sekolah sering dibiayai untuk piknik bersama teman sekolah bahkan sampai ke Bali. Sementara orang tua malah tidak pernah ke sana. Semoga segera bisa terwujud.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Mom Blogger (@diah_syauqiya) pada

9 komentar:

  1. "Sesulit apapun bahkan dalam keadaan susah, orang tua tidak akan pernah meninggalkan anak"

    setuju banget sama pernyataan yang ini mbak, bahkan orang tua juga tidak akan meninggalkan anaknya meskipun anak-anaknya sudah membina rumah tangga sendiri..
    cuman bedanya setelah anaknya berkeluarga sayangnya jadi bergeser lebih banyak ke cucu-cucunya..hehe..

    BalasHapus
  2. Dan kakek-nenek jadi sosok yang paling sayang sama anak kita. Huhu..kangenn..n

    BalasHapus
  3. Setelah jadi orang tua saya baru sadar betapa beratnya perjuangan orang tua kita, mereka memiliki hati seluas samudera yang mampu memaafkan segala kesalahan anak dan tetap berdiri tegak bagaimanapun kondisinya sehingga kita bisa seperti sekarang.

    BalasHapus
  4. Bahagianya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata kalau kita bisa jalan nbareng orang tua ya mbak. Klo keluarga kami, ada agenda tahunan. Bareng adik sekeluarga plus bapak ibuku, kami liburan bareng ke kota2 tertentu

    BalasHapus
  5. Senang, kalo punya ortu yg suka ngajakin jalan. Saya kebalikannya, mbak, makanya pas punya penghasilan, dipuasin jalan-jalannya.

    BalasHapus
  6. Melihat wajah ibunya mbak Indri mirip dengan mbak Indri. Manis. Salam buat bapak ibu ya mbak. Semoga selalu sehat. Aamiin.

    Aku di dumay tampak jarang jalan sama ibu, tapi di dunia nyata aslinya justru banyak jalan sama ibu. Ga diblog'in dan diposting aja 😂

    Mertuaku hobi jalan2, terutama yg laki2. Kadabg, bukan kami yg ajak beliau, malah beliau yg ajak kami.

    BalasHapus
  7. Cita2 ku banget bisa ajak ortu jalan2 dan semua full biaya aku yg tanggung, slama ini blm bisa kaya gt, kcuali jalan2 yg deket aja 😔😔

    BalasHapus
  8. Aaarrgghh, aku juga pengen banget ngajak bapak ibuku jalan2 mbak, kemana gtu, moga2 terwujud ya mbaak :D

    BalasHapus
  9. aku dulu masih kecil juga sering diajak orang tua piknik... tapi sekarang, aku baru mampu ngajakin yang dekat-dekat aja. kendalanya sama mbak...yaitu budget. semoga orang tua kita diberi umur panjang ya mbak...agar kita sempat membahagiakan mereka...

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan kenangan di kolom komentar blog. Insyaallah segera dibalas :)

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, it's not that hard to do dear...

Diberdayakan oleh Blogger.