Back to school : adab sebelum ilmu di sekolah

13.57.00

Berangkat TPA di Semarang
Assalamuallaykum, 
Hello good morning... ah senang deh bisa dapat mood nulis lagi. Semoga nyambung ke mood nulis buku mata ajar, insyaallah.

Masih rame ya moms soal konten pornografi di aplikasi WA. Jika dulu ada emoticon menjurus ke LGBT. Kita juga sempat ribut tapi ya WA tak bergeming. Kita masih bisa melihat emoticon tersebut.

Jadi apakah kasus ini alan membuat WA menarik konten GIF yang mengandung pornografi tersebut?

But anyway,
Kita ribut soal apa sih?
Kontennya tentu saja, menjurus ke pornografi either konten LGBT bila terakses anak kita. Tugas berat memang menjadi orang tua Zaman Now. Ancaman dari segala penjuru. Kita tentu maunya anak jadi soleh, solehah sesuai norma masyarakat dan agama.

Karenanya kita berikan bermacam pendidikan. Pendidikan karakter, pendidikan agama, pendidikan ilmu pengetahuan sebagai bekal anak menghadapi tantangan hidup yang makin berat.

It's common kalau kita menyekolahkan anak untuk mencapai tujuan di atas. Semenjak PAUD sampai tak terhingga. Tapi tak kalah penting adalah pendidikan di rumah. Sebelum anak ke sekolah, belajar adab menuntut ilmu lebih penting daripada bayar uang sekolah bulanan.

Sehingga nanti tidak ada Praktisi Pendidikan yang jadi bulan-bulanan (baca : seenaknya sendiri) murid dan orang tua murid yang beralasan sudah bayar uang bulanan (baca : biaya sekolah). 


Beberapa pekan yang lalu, Kendari sempat dihebohkan dengan kasus antara guru, orang tua dan murid. Tak hanya di Kendari. Di berbagai belahan bumi ini banyak sekali kasus serupa. Guru vs Murid & orang tua.

Saya tidak terlalu menyimak kasus yang belakangan terjadi, sepertinya agak berat sehingga muncul solidaritas antar guru untuk meliburkan 1 hari mengajar. Informasi yang saya dengar, para guru menggalang dukungan untuk guru yang bersangkutan.

Guru sejatinya adalah orang tua para murid di sekolah.  Bahkan dalam Islam diatur bagaimana seorang harus berperilaku pada gurunya. Keberadaan guru sangat terhormat dalam Islam sampai semua perkataan dan perbuatan dalam masa pembelajaran bersama guru harus seizin beliau.

Sehingga sebelum anak siap menuntut ilmu, anak harus memiliki adab terlebih dahulu.

Pada kasus Guru vs Orang tua, 
Sekiranya saya berada di tempat orang tua murid, tentu saja saya tidak berkenan jika terjadi kekerasan pada anak saya. Saya merasa ada banyak cara untuk menertibkan anak didik selain dengan kekerasan dan ancaman. Reward dan punishment secara akademis misalnya.

Namun...

Sebagai pendidik, beberapa kali saya juga melihat anak didik yang menguji kesabaran. Cara yang wajar dan umum untuk memberikan 'jalan belajar' seringkali direspon sebagai pilihan yang berat. Kids zaman now cenderung memilih cara yang mudah dan instan.

Sanksi akademis adalah pilihan yang paling memungkinkan. Karena bagi saya kekerasan bukan jalan keluar, selain mencederai makna kehadiran seorang 'Guru', akibat yang muncul akan lebih panjang.

Seperti kejadian di Kendari kota tempat tinggal saya saat inj, orang tua murid tidak terima saat anaknya melapor bahwa dia (kata si anak) telah mengalami tindakan kekerasan di sekolah. Entah sudah terjadi diskusi atau belum, orang tua murid menjadi marah dan berniat mencederai guru.

Di sisi lain, guru mengatakan hanya mengibaskan kertas di muka murid. Kesalahpahaman mungkin terjadi diantara guru, murid dan orang tua.

Seperti kata teman saya Irly tentang hubungan orang tua, murid dan guru. Semestinya guru dan orang tua bisa saling berbicara terlebih dahulu, sementara guru juga memberikan pendekatan yang baik pada anak didik. Anak selamanya akan menjadi anak di mata orang tua. Meskipun berbuat sejuta kesalahan, orang tua memiliki rasa untuk melindungi anak-anak mereka. 

Kejadian yang sungguh sangat disayangkan.
Mengutip dari kak Seto, "Diperlukan 1 kampung untuk mendidik seorang anak"

Hal yang sama, diperlukan kerja sama antara orang tua, guru dan murid. Orang tua berkewajiban mengajarkan adab kepada anak. Adab dalam segala hal, as we know generasi zaman now seakan sedang mengalami fenomena gegar budaya. Kebudayaan timur kita sedang dihajar habis-habisan dengan kebudayaan barat yang hanya diambil sebagian yaitu kebebasannya.

Seandainya bagian baiknya yang diambil tentu tidak akan mencederai budaya Indonesia yang mengedepankan sopan santun dan etika. Tren kebebasan tak hanya masuk dalam lini perdebatan ilmiah tetapi termasuk dalam kehidupan sosial.

Seandainya (lagi) yang diambil adalah produktivitas belajar dan bekerja dari kehidupan barat tanpa meninggalkan budaya ketimuran. Kita tidak perlu mengelus dada sambil berujar,
So sad but true.

Bercermin dari berbagai kejadian saat ini. Sungguh berat menjadi orang tua saat ini dan akan semakin berat dari masa ke masa.

Orang tua (termasuk saya), mari kembali ke rumah dan rangkul kembali anak-anak kita.
Semoga kita selalu diberikan kesabaran berlimpah dalam mendidik anak, terutama saya.

1 komentar:

  1. Setuju Mbak, adab itu utama. Dialah yang makin memuliakan ilmu. (y)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan kenangan di kolom komentar blog. Insyaallah segera dibalas :)

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, it's not that hard to do dear...

Diberdayakan oleh Blogger.